21 Oktober 2012

Memilih Dia

Diposting oleh Erlita Mutia di Minggu, Oktober 21, 2012 0 komentar
Bagi saya, memilih dia tidak seperti memilih, memilah ataupun dengan asal memilih.
Saya pun tidak memiliki hak untuk memilih, saya bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk memilih.
Memilih dia tentu bukan seperti memilih pakaian apa yang akan kita kenakan, karena hal tersebut akan sangat subjektif.
Tidak dapat ditentukan dalam satu saat yang singkat, misal; saat ini saya sedang menyukai pakaian formal atau saya sedang menyukai pakain yang casual tentunya ia adalah seseorang bisa saya bawa kedalam 2 hal yang berbeda.
Dimana dalam satu keadaan ia bisa menjadi partner menemani saya dalam menghadapi hal serius dan formal, dan dalam kesempatan lain ia bisa menjadi teman bermain saya yang dapat saya andalkan dan berbagi keseruan serta kebahagiaan.
memilih dia adalah memilih satu dari sejuta kemungkinan, dimana tidak hanya melibatkan hati, tetapi juga akal. Memilih ia bukan hanya sekedar merasa menjadi sempurna dan diperjuangkan. Tapi juga proses pendewasaan untuk saling menyempurnakan.
Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan selalu memujimu
Disetiap langkahku. Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu 

Kau genggam tanganku. Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikan kata dan hapus semua sesalku
Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayang kau begitu.. sempurna :)
 
"Someday somewhere sometimes, there will be someone to be with. Just believe that he was looking for me as well as me looking for his."

- Erlita Mutia -

10 Oktober 2012

Satu Senja Lagi

Diposting oleh Erlita Mutia di Rabu, Oktober 10, 2012 0 komentar
Senja di Stasiun Kota, ditemani secangkir kopi terlalu manis dan senja yang makin menjingga. Tidak ada tanya, mau ke arah mana? dan kereta akan tiba pukul berapa?
I have no idea where I'm heading in life.

Pada akhirnya dia lah yang paling setia; satu gado-gado bernutrisi dan es jeruk untuk mendinginkan panasnya hati. Aku meleleh berulang kali, bersama tanya yang semakin membuatmu lelah.
 
Bolehkah aku menjawab: aku ingin ke arahmu saja, jingga? ah, sayang aku tidak memiliki alat yang membuat koordinat mu tidak semakin menjauh dari koordinat ku.
Kini Jingga menuju utara. Aku hanya selatan.


Beri aku kesempatan, bersama dengan satu senja lagi. Sehingga dimiliki sepenuh hati, ditemani untuk saling melengkapi, didekatkan untuk menyempurnakan. Bukan cinta yang melukai dan meninggalkan hidup ini lagi.

Stasiun Depok, 10 Oktober 2012.

02 September 2012

Satu Pagi

Diposting oleh Erlita Mutia di Minggu, September 02, 2012 0 komentar
Satu pagi dengan sinar-sinar mentari, menjiwai hembusan nafas penuh syukur dan semua hal yang di capai dalam hidup ini.
Tujuan yang mungkin selalu berlawan namun menuju arah yang sama. Rasa ku ingin kembali menata apa yang menjadi tujuan mu, juga tujuan ku, satu bulan, satu tahun, dua tahun ... atau mungkin untuk selamanya, bersama mu.
Benar kata mu. Kita selalu memerlukan pagi untuk kembali memulai kehidupan, bukan hanya sekedar memperbaiki, tapi mencoba untuk saling melengkapi untuk lebih baik lagi.

Akhirnya aku sampai pada hari bisa menemui mu, biar saja 'itu' kita pikirkan lagi nanti, tidak pagi ini. Kadang menikmatinya dengan memikirkan hal-hal lain membuat kita semakin jauh.
Saat semua telah terasa sempurna, kuliah, pekerjaan, masa depan, kemudian apa lagi?
Sepertinya hadir mu di sini saat ini sudah cukup.

Menikmati pagi di Jalan Sederhana, di kota kita.
Membiarkan semangkuk nutrisi menjalankan tugasnya memberi energi untuk kita saling mencintai., setidaknya cukup untuk energi hari ini.
Merasakan hangat teh manis mendamaikan setiap organ dalam tubuh mu. Membiarkan segar secangkir kopi menghidupkan pagi ku.
Pagi kita hari ini :)


Aku Sudah Lama menunggu hari ini, satu pagi tanpa ragu.
Suatu pagi hangat untuk mengisi sepanjang hari mu, hari ini dan hari-hari selanjutnya. Semoga.

P.S. Adi Putra. I Love You.

01 Juli 2012

city of the fall

Diposting oleh Erlita Mutia di Minggu, Juli 01, 2012 1 komentar

Hi kawan kecil!
Maaf aku memanggil mu kengan sebutan itu. Entah, aku selalu menganggapmu sebagai adik kecilku. Pertama bukan karena usia 2-3 tahun yang membuatmu lebih belia dariku, namun ada rasa lain. Rasa inginku memiliki saudara lain sehingga aku mempunya tempat bercerita, membahas hal-hal jenaka, kemudian mencurahkan seluruh sendu dan tawa yang kita dapatkan di dunia luar sana.
Senja ini aku lihat kamu sedang jatuh dengan nya, seperti hari-hari kemarin. Entah jatuh dalam hal apa, mengenai apa dan untuk apa.
Sebut saja dengan jatuh hati, atau jatuh cinta, mungkin. Bukankah katamu kota ini adalah tempat yang paling tepat untuk jatuh cinta?
Kota dimana setiap jengkalnya memiliki kesempatan untuk meninggalkan kenangan-kenangan. Setiap sudut dan kejadian yang ada di kota ini mampu membuat setiap orang terjatuh.

Maka tunggu apalagi, adiku. Saat ini, ia ada disini, di kota mu, tepat didepan mu. Aku geli melihat gerik kalian, berbincang dengan tatapan dan canda malu-malu. Malu-malu itu perlu.. tapi kamu tidak boleh menunda karena tuhan sudah mengizinkan semesta untuk be-konspirasi mendatangkan dirinya ke kota ini.

Kalau aku jadi kamu: "aku akan buat perjanjian dengan semesta, agar setiap langkah ini direstuinya. Tidak akan pernah aku sia-siakan hari, jam, menit bahkan detik. Untuk membuatnya jatuh cinta di kota ini, untuk menunjukan besarnya ketulusan dan kegigihan ku’":D

Tapi aku bukan kamu, aku sama seperti dia. Terposisikan sebagai seorang hawa.
Aku dan dia, hanya bisa berdoa, kepada semesta agar  orang-orang yang kami cinta dikuatkan hati dan langkahnya. Maka izinkan aku untuk memberitahu kamu, bahwa perempuan memiliki keterbatasan untuk menyampaikan perasaanya, entah. karena aku tahu dia tidak enggan untuk bersama mu, tapi ia begitu malu-malu.
Karena perempuan memang seperti itu.

Buat dia jatuh cinta, jatuh cinta pada kota kita. City of the fall.

Bandung, 1 Juli 2012


Kamu harus tau, katamu itu membuat aku ingin jatuh cinta, di kota ini.
Tidak menyiakan satu hari pun tidak jatuh cinta.
Katamu begitu benar, kini aku telah jatuh cinta, di kota ini, di kota kita.
Dia seorang Geodest.
Semoga semesta pun selalu merestui aku.
Muti, with love.

15 Januari 2012

Grenade

Diposting oleh Erlita Mutia di Minggu, Januari 15, 2012 0 komentar
Like a grenade, then BOOM !

Easy come, easy go. That's just how you live oh..   
Take, take, take it all, But you never give
Gave you all I had. And you tossed it in the trash.
You tossed it in the trash, you did.
To give me all your love is all I ever asked.
Cause what you don't understand is
I’d catch a grenade for ya. Throw my hand on a blade for ya.
I’d jump in front of a train for ya. You know I'd do anything for ya.
I would go through all this pain, Take a bullet straight through my brain.
Yes, I would die for ya baby; But you won't do the same !
If my body was on fire, ooh
You’ d watch me burn down in flames
You said you loved me you're a liar
Cause you never, ever, ever did baby.. 
Bruno Mars – Grenade

"I hate the fact that you ignore me for so long, then you start talking to me like nothing happend."

- Erlita Mutia -
 

coretan senja Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez